Benang Merah Tol Laut dan Pemberdayaan Ekonomi Desa

Setidaknya sejak tahun 2015, tol laut menjadi salah satu program unggulan pemerintah dengan tujuan untuk menekan disparitas harga antara wilayah barat dan wilayah timur Indonesia, dengan mempermudah lalu lintas barang logistik antar wilayah. Hingga saat ini, setidaknya ada 106 pelabuhan yang menjadi jalur lintas kapal tol laut. Khusus di wilayah Kabupaten Flores Timur, ada dua pelabuhan yang menjadi jalur lintas kapal tol laut tersebut, yakni pelabuhan Tobilota dan pelabuhan Larantuka.

Sebetulnya, dengan melihat tujuan dari adanya program tol laut yang digagas oleh pemerintah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa program ini sangat baik untuk mengentas persoalan-persoalan ekonomis yang hingga saat ini masih menjadi masalah krusial. Namun sayang, khusus untuk wilayah Flores Timur, program ini belum menunjukkan signifikansi. Disparitas harga barang masih menjadi persoalan pelik, juga belum mampu mendongkrak daya saing Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Flores Timur.

Selain itu, adanya program tol laut juga mestinya menjadi momentum bagi bangkitnya sektor ekonomi desa, salah satunya dalam kerangka Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di bumi Flores Timur mestinya dioptimalkan untuk memajukan kesejahteraan masyarakat desa, membuka lapangan kerja untuk mengentas angka pengangguran. Menurut penulis, subyek utama yang harus menjadi target dari pengentasan angka pengangguran itu adalah anak-anak muda, agar kedepan mereka tidak lagi terjebak dalam hal-hal yang meresahkan masyarakat, seperti mengkonsumsi alkohol secara berlebihan yang berujung perkelahian.

Kekayaan SDA seperti komoditas hasil pertanian tidak boleh dimonopoli segelintir orang untuk memperkaya diri sendiri. Begitu pun di sektor kemaritiman, para nelayan mesti ikut menikmati hasil laut yang melimpah ruah. Kenyataan sejauh ini, kebijakan yang diambil oleh stakeholder pemerintah belum benar-benar memihak pada kesejahteraan para petani dan nelayan di desa-desa. Keringat mereka masih diperas untuk memperkaya orang lain, tanpa merasakan peningkatan kesejahteraan yang berarti.

Selain untuk menekan disparitas harga antar wilayah, program tol laut juga sebetulnya telah menghubungkan daerah-daerah penghasil komoditas dengan kota-kota sentra industri seperti Surabaya dan Jakarta. Hal inilah yang sebetulnya menjadi peluang bagi daerah-daerah penghasil komoditas, mereka bisa menjalin kerja sama langsung dengan sentra industri di kota-kota besar tanpa terkendala biaya transport yang memberatkan. Sayangnya, peluang ini belum sepenuhnya disadari oleh pemerintah daerah hingga tingkat pemerintah desa.

Secara empiris, kebanyakan desa di Flores Timur belum memiliki BUMDes untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakatnya, pun menjadi tonggak untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Hasil alam yang melimpah saat ini justru hanya dinikmati oleh segelintir orang yang memiliki klaim jaringan dengan pulau Jawa sebagai sentra industri. Para petani dan nelayan tetap saja tak berdaya, apalagi sampai bisa mengintervensi harga komoditas hasil keringat mereka sendiri.

Selain hasil alam, salah satu sumber daya ekonomi yang hari ini masih dipandang sebelah mata adalah sampah-sampah anorganik seperti plastik. Jika di kota-kota sudah lumrah dengan adanya para pemulung yang menjadikan sampah sebagai sumber penghidupan mereka, di daerah-daerah semacam Flores Timur justru belum ada kebijakan yang serius ihwal pengelolaan sampah. Sampah plastik masih berserakan di kali atau di tepian kampung-kampung, padahal ini persoalan yang cukup serius bagi kelestarian lingkungan hidup.

Jika saja kita mampu membaca peluang, maka persoalan sampah ini juga bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat desa. Bangun kerja sama dengan pabrik daur ulang plastik, distribusinya diatur secara berkala dengan memanfaatkan jalur tol laut. Dengan demikian, maka desa bisa menjadi pusat perputaran uang, pengangguran semakin menipis, sebaliknya kesejahteraan masyarakat desa semakin meningkat, begitu pun masalah-masalah sosial seperti kenakalan dan perkelahian remaja bisa diminimalisir sedemikian rupa.

2 comments

  1. Sangat bermanfaat ulasannya
    Tapi
    Mungkin,, di lapangan kurang sosialisasi?

    SalamGelekatFlotim

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s