Rintik Hujan yang Menghangatkan

Hujan membasahi malam Jum’at itu, mengguyur dari sore hari. Menjelang adzan Maghrib bergema di langit senja, sepeda tua itu mengantar kami ke warung kopi. “Aku nitip pesankan kopi robusta”, pintaku kepada kawan sambil mengeluarkan beberapa lembar isi dompet. Ia pun bergegas menuju kasir, aku mulai membuka bungkus lalapan ayam bakar yang kubeli dalam perjalanan.

Seharian tubuhku belum diberi nutrisi, males keluar dari kos karena hujan”, celotehku sambil memperhatikan beberapa pegawai yang sibuk mengganti lampu di warung kopi itu. Sebetulnya, hujan bukan alasan utama, melainkan karena rebahan seharian yang bikin enggan untuk keluar kos. Aktifitas sebagai buruh data memang cukup membuat lelah, hehehe.

Warungnya baru buka ya Mas?” Tanyaku sembari memperhatikan suasana warung kopi yang masih lengang. Padahal, biasanya tempat itu penuh sesak dan berisik dengan suara tawa cekikikan pengunjung. “Bukanya sudah dari tadi siang Mas”, sahut pegawai yang kualamatkan pertanyaan itu. Dia lalu sibuk memutar-mutar lampu di sudut bangunan itu, tepat sebelah bangku yang saya duduki.

Hujan sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda untuk reda. Kawan yang menjadi teman ngopiku lalu membakar sebatang rokok, hembusan asapnya beriringan dengan obrolan ringan. Hujannya semakin deras, “ayo pindah ke meja tengah”, saranku. Beberapa saat kemudian kami pun pindah ke meja yang ada tepat di tengah pendopo itu.

Bangunan utama dari warung kopi itu memang bermodel pendopo, arsitektur yang biasanya identik dengan pusat pranata monarki Jawa pada zaman dahulu. Handphone yang biasanya sepi dari notifikasi tiba-tiba berdering, “wait, habis ini meluncur om”, begitu kalimat yang muncul dalam grup WA Insinyur Kata-Kata dari seorang kawan. Agak menggelitik memang nama grup WA itu, hehehe.

Seperti biasanya, kata “otw”, “meluncur”, “merapat”, dan berbagai kata lain yang mendefinisikan akan kehadiran seseorang selalu mengandung sifat elastisitas, melebihi gelang karet. Setengah jam, satu jam atau bahkan lebih, telah menjadi elastisitas dari kalimat-kalimat itu. Sebagai sesama penganut paham “jam karet” pasti sudah khatam dengan hal-hal semacam itu. Sementara cangkir kopiku isinya semakin sedikit.

Setelah formasi ngopi lengkap, obrolan ngalor ngidul pun tak terhindarkan. Seperti biasanya, kawan yang bersamaku dari awal di warung kopi itu selalu menjadi sasaran empuk bullyan, saya sendiri pun seringkali begitu. Namun perlu digarisbawahi bahwa, bullyan di sini konotasinya lebih kepada guyonan, candaan, menambah hangatnya pertemanan. Bukan kepada upaya untuk membuat seseorang mengalami keterbelakangan mental, insecure, atau konotasi negatif lainnya. Kawan-kawan yang selingkaran setan dengan kami tentu sudah paham betul dengan hal ini.

Nalar konyol kami kemudian diarahkan pada satu pertanyaan yang cukup substansial, “apa itu cinta?” Seketika perspektif konyol berserakan di atas meja ngopi itu, mengepul bersama asap rokok dari sesama ahli hisab (ahli hisab; plesetan untuk pecandu nikotin). “Nyambung gak nyambung, yang penting ngoceh dulu”, barangkali itu prinsipnya. Untuk mengambil intisari ilmu dari obrolan ngalor ngidul semacam itu, 90 % tergantung pada kemampuan nalar masing-masing, sedangkan 10% tergantung pada iman dan taqwa, hehehe.

Kehadiran beberapa anak muda pengamen pun memberi sedikit jeda pada obrolan kami. “Kita perlu bersyukur, bahwa di tengah rintik hujan yang tak kunjung reda, kita masih berkesempatan untuk menikmati kopi sambil bersenda gurau, sementara masih ada segerombolan anak muda yang harus menerabas hujan dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk bisa makan, atau sekedar untuk membeli beberapa batang rokok eceran yang akan diisap gantian”, celetukku. Mereka pun mengangguk-angguk, pertanda menghayati kalimat yang barusan kulontarkan, atau hanya sekedar ekspresi hampa.

Setelah obrolan ngalor ngidul hingga moderator dadakan yang ditunjuk kawan-kawan pun kelabakan untuk menarik kesimpulan, salah satu pegawai warung kopi menghampiri kami dan mengingatkan bahwa tempat itu akan segera tutup. Jarum jam sudah mendekati angka 12. “Sulit menemui ujung kalau bicara soal cinta, seperti hutang luar negerinya Indonesia”. Celoteh seorang kawan itu justru diikuti suasana krik krik, hingga suara dehem kawan lainnya memecah tawa kami. Rintik hujan yang menghangatkan pun berakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s