Dengan Ngopi Aku Bebas

Waktu menjelang pukul delapan malam, tubuh malas ini beranjak ke kamar mandi. Dalam benak berkutat pertanyaan “habis ini beli makan di mana, setelah itu ngopi di mana?”. Dengan berjalan kaki, tiba aku di warung tahu telor, sejurus kemudian kuarahkan langkah menuju salah satu warung kopi di Jl. Galunggung, Kota Malang. Biasanya, tempat ini saya kunjungi hanya ketika tak ada pinjaman sepeda motor, karena relatif bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit.

Sengaja tak kukabari siapa pun saat itu, tak ada rencana ngopi dengan teman-teman, karena saya hanya ingin ngopi seorang diri. Kadangkala begitu, saya lebih menikmati suasana ngopi justru ketika sendiri, tak ada lawan ngobrol, yang ada hanya secangkir kopi dan beberapa batang rokok sebagai kawan. Lagu Umar Bakri yang dinyanyikan Iwan Fals pun beradu keras dengan bunyi kendaraan yang lalu lalang tepat di depan warung kopi itu.

Ngopi di mana le?”, tak lama seorang teman bertanya lewat WA. Kujawab singkat dengan merujuk nama warung kopi itu. Sejurus kemudian beberapa notifikasi WA pun berjejer masuk dalam layar digital. Sepertinya beberapa teman itu juga sedang dilanda kesepian dan butuh kawan ngopi.

Dalam sekejap majelis ghibah pun terbentuk, mulai ngobrol ngalor ngidul seperti biasanya. Rencana awal untuk ngopi seorang diri pun urung. “Kita sedang hidup dalam kebebasan atau takdir?” menjadi salah satu pertanyaan sekaligus topik ghibah kami menjelang tengah malam. Pita suara pun kami paksa untuk bersaing dengan kerasnya suara musik dan riuhnya kendaraan yang sedang lalu lalang.

Aku ngopi maka aku hidup”, celetuk seorang peserta ghibah dengan sedikit mengambil kemiripan dari arti kalimat “cogito ergo sum” adagiumnya Rene Descartes. Sekejap kemudian teman yang lain bersuara “dengan ngopi aku bebas”, mirip penggalan kalimat “karena dengan buku aku bebas” yang pernah dilontarkan Bung Hatta ketika diasingkan oleh pemerintah kolonial. Beberapa kalimat yang lain pun berserakan di atas meja ngopi setelah itu.

Obrolan malam itu muncul dari keresahan kami –dan mungkin sebagian kalangan– yang seringkali salah kaprah dalam memandang aktifitas “ngopi”. Meskipun majelis ngopi selalu kaya informasi dan bebas ngobrol ngalor ngidul, mulai dari isu politik, penegakan hukum, sosial-budaya, ilmu pengetahuan, hingga asmara dan nostalgia serta beragam tema lainnya. Selain beraneka ragam menu obrolan tadi, saling bully sesama teman pun seolah menjadi lagu wajib.

Meskipun aktifitas ngopi sering diidentikkan dengan obrolan ngalor ngidul, informasi maupun ilmu yang berserakan itu mestinya tidak mubazir. Ia tidak cukup jika hanya direkam dalam ingatan, informasi maupun ilmu itu juga perlu diikat dengan tulisan-tulisan. Selain untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual, hal ini juga bisa menjadi antitesis dari anggapan awam bahwa ngopi adalah aktifitas yang sia-sia, buang-buang duit dan waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s